Pulang kampung ke Tanjung Uma, Batam

Lhah...pulang kampung kok ke Tanjung Uma sih Mit? Bukan ke Yogyakarta gitu! Tanya ibuku waktu itu.
Yogyakarta khan kampung halaman ibu, kalo Mita khan dilahirkan di Tanjung Uma, jadi kampung halaman mita ya Tanjung Uma dong!

Memang, saya dilahirkan di Tanjung Uma, sebuah perkampungan tua yang sangat lekat sekali dengan budaya Melayu. Cerita Ibuku, yang pernah tinggal di sana selama 3 tahun ( dari tahun 1992 – 1996), saat itu perkampungan ini terlihat orisinil, banyak pohon-pohon rindang dan besar. Rumah-rumah penduduk terbuat dari papan kayu, meski ada sebagian yang sudah memakai batako. Komunikasi masih sulit, karena HP maupun telephone rumah belum masuk. Jika ada tentu pemiliknya orang berada alias orang kaya dikampung itu.

Ibu pernah bercerita...

Owalah...Nduk!!! Ibumu ini pernah mengalami kesulitan untuk berkomukasi dengan Bapakmu yang kerja malam, saat kamu masih bayi, tengah malam nangis bak kesurupan, tiada sesiapa disamping Ibu. Bayangin nduk...macem ditengah hutan belantara...sunyi sepi...
Listrik tidak ada, air harus beli 2 hari sekali...belum lagi jalan laut yang harus ditempuh setiah hari untuk menuju kota...


Tanjung uma terletak diselat Jodoh, jauh dari pusat kota. Jalur darat masih belum terbuka, dan satu satunya jalur untuk bisa akses ke kota adalah jalur laut, dengan menggunakan Boat ataupun tongkang, yang waktu itu tarifnya masih 300 rupiah sekali jalan. Padahal jaraknya tak begitu jauh, bisa saja jalur ini disulap menjadi jalur darat. Pertimbangan perekonomianlah yang menjadi satu-satunya alasan untuk tidak menutup jalur tsb, karena boat dan tongkang merupakan mata pencaharian utama penduduk itu.

Karena pernah tinggal di Tanjung Uma selama 3 tahun, jadi masih teringat dalam memori bagaimana bapak dengan susah payah menaiki tangga pelantar untuk menjangkau tongkang disaat air surut, sambil menggendongku yang masih berumur 3 tahun...duh...Bapak ibuku yang asli Jawa...sepertinya nggak nyaman dengan keadaan seperti itu.


Pelantar/Jalan menuju boat atau tongkang Tanjung Uma (dulu)

Kala dipikir-pikir iya juga ya, dengan perkampungan yang tiada listrik , air, ataupun saluran telepon masuk, itu cukup menyiksa, apalagi di zaman sekarang ini. Tetapi, itu sudah berlalu, tak bisa di recall lagi..

Seiring dengan berjalan waktu dan perkembangan teknologi, kini Tanjung Uma telah dipoles oleh PEMKO dengan fasilitas-fasilitas yang lebih memadai, seperti penerangan, dengan masuknya aliran listrik ke sana bisa memudahkan msyarakat Tanjung Uma didalam mengerjakan aktifitas sehari-hari. Selain itu pemerintah juga mengadakan penambahan gedung-gedung sekolah dari, sehingga anak-anak usia sekolah, bisa menikmati pendidikan seperti yang dirasakan oleh anak-anak yang berada di perkotaan.

Jalur transportasi darat juga sudah diperbaiki dan diaspal, sehingga lebih memudahkan akses tanjung Uma menuju pusat kota, tanpa mengurangi atau menutup sarana transportasi laut yang bisa mematikan mata pencaharian pokok warga Tanjung Uma.

Harapan saya, semoga Tanjung Uma bisa menjadi aset Pemerintah. Dengan perhatian khusus Pemko terhadap daerah tersebut, Pantai Tanjung Uma bisa di jadikan obyek wisata yang bisa menyerap tenaga kerja dan menambah penghasilan daerah tersebut, meningat Tanjung Uma adalah salah satu dari sekian perkampungan yang masih kental dengan budaya Melayunya.

Tanjung Uma, I miss you..........




Image and video hosting by TinyPic
1 Response
  1. wessss..
    mantap tanjung umaaa..
    hahaha..
    salam kenal ya, kalo mau cari kerja kunjungi blog ak yaa..
    www.batambekerja.blogspot.com


Posting Komentar